Kafe sebagai Ruang Belajar Alternatif: Studi Deskriptif tentang Budaya Nongkrong Mahasiswa di Surabaya
DOI:
https://doi.org/10.64099/dz1veb32Kata Kunci:
budaya nongkrong, ruang belajar nonformal, mahasiswa urban, kafe, keadilan spasialAbstrak
Fenomena meningkatnya frekuensi mahasiswa mengunjungi kafe sebagai tempat belajar menunjukkan adanya transformasi budaya dalam penggunaan ruang publik urban. Kafe tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat bersantai, melainkan telah menjadi ruang belajar nonformal yang penting bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai budaya nongkrong di kafe, apa saja alasan dan preferensi yang memengaruhinya, serta bagaimana faktor jenis kelamin dan latar belakang ekonomi membentuk pola penggunaan ruang tersebut. Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif deskriptif dengan penyebaran kuesioner kepada 75 mahasiswa aktif di Kota Surabaya yang memiliki kebiasaan nongkrong di kafe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memanfaatkan kafe untuk mengerjakan tugas dan berdiskusi, dengan frekuensi dua kali per minggu dan durasi rata-rata empat jam per kunjungan. Terdapat perbedaan preferensi berdasarkan jenis kelamin, serta tantangan aksesibilitas yang dihadapi oleh mahasiswa dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Temuan ini menunjukkan bahwa kafe telah menjadi bagian dari identitas budaya belajar mahasiswa urban, namun sekaligus menyisakan persoalan keadilan spasial dan inklusivitas ruang belajar dalam konteks pendidikan tinggi.
Unduhan
Referensi
Amin, A., & Thrift, N. (2017). Seeing like a city. John Wiley & Sons.
Barron, B. (2006). Interest and self-sustained learning as catalysts of development: A learning ecology perspective. In Human Development (Vol. 49, Nomor 4). https://doi.org/10.1159/000094368
Bourdieu, P. (2018). Distinction a social critique of the judgement of taste. In Inequality (hal. 287–318). Routledge.
Caloca-Lafont, E. (2016). Meaning, Identity, and Cultural Studies: An Introduction to Stuart Hall Thought. Razón y Palabra, 20, 1331–1362. https://www.revistarazonypalabra.org/index.php/ryp/article/view/377
Crook, C., & Mitchell, G. (2012). Ambience in social learning: Student engagement with new designs for learning spaces. Cambridge Journal of Education, 42(2), 121–139.
Daman Sudarman. (2023). Cultural Shifts And Social Impacts Of Coffee Shops On Millennials. Santhet (Jurnal Sejarah Pendidikan Dan Humaniora), 7(2). https://doi.org/10.36526/santhet.v7i2.1837
Featherstone, M. (2007). Consumer culture and postmodernism. In Consumer Culture and Postmodernism. https://doi.org/10.4135/9781446212424
Gartman, D., & Chaney, D. (2003). Cultural Change and Everyday Life. Contemporary Sociology, 32(3). https://doi.org/10.2307/3089182
Herlyana, E. (2012). Fenomena Coffee Shop Sebagai Gejala Gaya Hidup Baru Kaum Muda. ThaqÃfiyyÃT, 13(1). https://doi.org/10.20884/wk.v9i2.1962
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi (Vol. 144). Rineka Cipta.
Kolb, D. A. (2014). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. FT press.
Kurnianto, G. W., & Ardillah, R. T. (2025). Study Time at the Coffee Shop: Exploring Student Motives through a Phenomenological Study. Indonesian Psychological Research, 7(1), 43–54. https://doi.org/10.29080/ipr.v7i1.1376
Lomas, T., Bartels, M., Van De Weijer, M., Pluess, M., Hanson, J., & VanderWeele, T. J. (2022). The Architecture of Happiness. Emotion Review, 14(4). https://doi.org/10.1177/17540739221114109
Matthews, K. E., Andrews, V., & Adams, P. (2011). Social learning spaces and student engagement. Higher Education Research and Development, 30(2). https://doi.org/10.1080/07294360.2010.512629
Oldenburg, R. (1999). The great good place: Cafes, coffee shops, bookstores, bars, hair salons, and other hangouts at the heart of a community. Da Capo Press.
Purcell, M. (2014). Possible worlds: Henri lefebvre and the right to the city. Journal of Urban Affairs, 36(1). https://doi.org/10.1111/juaf.12034
Reckwitz, A. (2002). Toward a Theory of Social Practices: A Development in Culturalist Theorizing. European Journal of Social Theory, 5(2). https://doi.org/10.1177/13684310222225432
Schwanen, T., Lucas, K., Akyelken, N., Cisternas Solsona, D., Carrasco, J. A., & Neutens, T. (2015). Rethinking the links between social exclusion and transport disadvantage through the lens of social capital. Transportation Research Part A: Policy and Practice, 74. https://doi.org/10.1016/j.tra.2015.02.012
Shove, E., Pantzar, M., & Watson, M. (2012). The dynamics of social practice: Everyday life and how it changes. In The Dynamics of Social Practice: Everyday Life and How it Changes. https://doi.org/10.4135/9781446250655
Vermunt, J. D., & Verloop, N. (1999). Congruence and friction between learning and teaching. Learning and Instruction, 9(3). https://doi.org/10.1016/S0959-4752(98)00028-0
Watkins, W. (2015). The Assault on Public Education: Confronting the Politics of Corporate School Reform. Teachers College Press.
Wu, X., Kou, Z., Oldfield, P., Heath, T., & Borsi, K. (2021). Informal learning spaces in higher education: Student preferences and activities. Buildings, 11(6). https://doi.org/10.3390/buildings11060252
Yusuf, F. M., & Ernawati, E. (2024). Pengaruh Coffee Shop Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Jurusan Geografi UNP Angkatan 2020 Program Studi Pendidikan Geografi , Universitas Negeri Padang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 29367–29376. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/18878
Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. In Theory into Practice (Vol. 41, Nomor 2). https://doi.org/10.1207/s15430421tip4102_2
Zukin, S. (2018). Naked city. the death and life of authentic urban places (excerpts). Ekonomicheskaya Sotsiologiya, 19(1). https://doi.org/10.17323/1726-3247-2018-1-62-91
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Netanya Evelyn Berliana Damanik (Author)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Jurnal ini dilisensikan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0). Ini berarti Anda bebas untuk:
- Berbagi – Menyalin, mendistribusikan, dan mentransmisikan materi dalam jurnal ini.
- Mengadaptasi – Membuat remix, mengubah, dan mengembangkan materi dalam jurnal ini untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial.
Namun, ada beberapa syarat yang harus Anda ikuti:
- Penyebutan – Anda harus memberikan kredit yang sesuai kepada penulis dan sumber asli, menyertakan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan yang dibuat. Anda harus melakukan ini dengan cara yang wajar, namun tidak boleh menyarankan bahwa penulis mendukung Anda atau penggunaan Anda terhadap materi tersebut.
- Berbagi Serupa (ShareAlike) – Jika Anda membuat remix, perubahan, atau mengembangkan materi tersebut, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama, CC BY-SA 4.0.
Lisensi ini berlaku secara internasional dan memberikan hak kepada pengguna untuk mendistribusikan, memodifikasi, dan membuat karya turunan dari materi yang dilisensikan, selama karya turunan tersebut dilisensikan di bawah ketentuan yang sama dan memberikan kredit yang sesuai kepada penulis asli.
Untuk syarat dan ketentuan lengkap, Anda dapat mengunjungi tautan ini.



