REKONSTRUKSI MAKNA “BORU PANGGOARAN” DALAM SISTEM  KEKERABATAN  BATAK TOBA

Penulis

  • Hanna Masta Pasaribu Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar Author
  • Riris Johanna Siagian Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar Author

DOI:

https://doi.org/10.64099/30qta842

Kata Kunci:

Boru Panggoaran, rekonstruksi makna

Abstrak

Artikel ini merekonstruksi makna Boru Panggoaran dalam sistem kekerabatan Batak Toba. Konsep ini kerap direduksi sebagai beban domestik dan kewajiban adat anak perempuan pertama, padahal di dalamnya terdapat makna relasional, simbolik, dan kultural yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis teks budaya, penelitian ini menelaah literatur antropologi, sosiologi, kajian budaya Batak Toba, serta ekspresi budaya seperti ungkapan adat dan teks lagu Batak. Analisis dilakukan dengan teori interpretatif budaya Clifford Geertz dan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann untuk menunjukkan bahwa makna budaya diwariskan, dinegosiasikan, dan ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Boru Panggoaran berfungsi sebagai identitas relasional, figur pengasuhan, simbol harapan keluarga, penghubung relasi kekerabatan, dan pembawa kehormatan dalam sistem Dalihan Na Tolu. Dalam konteks kontemporer, maknanya bergeser dari ekspektasi domestik yang kaku menuju agensi relasional, tanggung jawab budaya, dan martabat perempuan yang lebih setara.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Anchor Books.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge University Press.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.

Harahap, B. M., & Siahaan, H. M. (1987). Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola-Mandailing. Sanggar Willem Iskandar.

Koentjaraningrat. (2004). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Gramedia.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.

Simanjuntak, A. B. (2006). Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba. Yayasan Obor Indonesia.

Simatupang, A. F. (2021). Konstruksi Sosial Realitas Perempuan Batak Toba sebagai Parhobas pada Komunitas Adat Batak Toba di Kota Salatiga: Pendekatan Teori Peter Berger dan Thomas Luckmann. Jurnal Neo Societal, 6(1), 144.

Siregar, H. S., & Fatmariza, F. (2021). Perubahan Kedudukan Perempuan Pada Masyarakat Batak Angkola”, Jurnal Ius Constituendum. Jurnal Ius Constituendum, 6(2), 262.

Siregar, M. (2018). Ketidaksetaraan Gender Dalam Dalihan Na Tolu. Jurnal Studi Kultural, 3(1), 13–14.

Situmorang, S. (2009). Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII–XX. Komunitas Bambu.

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing.

Weber, M. (1978). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-29

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

REKONSTRUKSI MAKNA “BORU PANGGOARAN” DALAM SISTEM  KEKERABATAN  BATAK TOBA. (2026). MARSAHALA : Jurnal Studi Agama Dan Budaya, 2(1), 51-60. https://doi.org/10.64099/30qta842